Skip to main content

Zulkifli Hasan Bangsawan Kerajaan Sekala Brak

Dr. ZULKIFLI HASAN KETUA MPR RI saat memberikan sambutan
Dalam Peringatan Hari Lahirnya Pancasila

Siapa tak kenal Zulkifli Hasan yang saat ini menjabat sebagai Ketua MPR RI, beliau selalu tampil sangat bersemangat saat orasi dalam rangka sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, hampir diberbagai tempat ia selalu hadir langsung demi lebih memasyarakatkan pilar-pilar kebangsaan yakni Pancasila,UUD ’45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.

Dibalik kegigihannya tersebut,  mungkin banyak yang belum tahu bahwa Zulkifli Hasan - akrab disapa Bang Zul - adalah putra daerah Lampung, kampung halamannya di daerah Sukau Kalianda Lampung Selatan yang saat ini bupatinya adalah Zainuddin Hasan adik kandung dari Bang Zul sendiri.

Sebagai perantau dari Lampung, di Jakarta Bang Zul juga dipercaya menjadi Ketua Forum Masyarakat Lampung Perantauan se Pulau Jawa, karena sosoknya yang peduli terhadap masyarakat dan juga adat istiadat.

Ketua MPR RI menerima anugerah Pusaka Kerajaan dan Lencana Kepaksian
disaksikan oleh Gubernur Lampung, Ketua DPRD Prov. Lampung, Bupati Lampung Barat,
Ketua KY Suparman Marzuki,  Anggota DPR RI Erwin Muslimin Singajuru, 

Sebuah pengakuan dan penghargaan datang dari masyarakat terhadap sosok Bang Zul ini, Kerajaan Sekala Brak  yang menjadi satu-satunya Kerajaan di tanah Lampung yang masih eksis berdiri hingga saat ini,  memberikan anugerah adat berupa Lencana Kepaksian dan juga Pusaka yang mempunyai kedudukan serta nilai sejarah yang tinggi yaitu Terapang Rio Liyu Selingkokh ni Way. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh SPDB Pangeran Edward Syah Pernong Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-XXIII di Lapang Agung Ruang Margasana Gedung Dalom (istana) Kepaksian Pernong dalam suatu perhelatan adat tertinggi yaitu Musyawarah (Himpun) Agung Empat Sultan Kerajaan Adat Paksi Pak Sekal Brak di Lampung Barat, Sabtu 10 Oktober 2015. Disaksikan oleh tamu-tamu agung diantaranya Gubernur Lampung, Ketua DPRD Provinsi Lampung, Anggota DPR RI Erwin Muslimin Singajuru, mantan ketua KY Suparman Marzuki, Bupati dan wakil bupati Lampung Barat, selain itu juga segenap perangkat kebesaran Kerajaan yang terdiri dari Para Pemapah Dalom, para Kepala Marga, Raja-Raja Suku/Jungku, Pepatih dan Kerabat Istana, para Panglima dan Tumenggung, dan juga Para Pendekar Pemberani, maka dengan penganugerahan itu  secara resmi Bang Zul diakui sebagai keluarga besar Kerajaan Sekala Brak Lampung.

Secara adat, kampung kelahiran Bang Zulkifli Hasan masuk dalam wilayah adat Marga Dantaran Way Handak, ia dibesarkan di kaki Gunung Rajabasa, tepatnya di pekon Pisang Kecamatan Penengahan Way Handak Lampung Selatan.

Selain itu juga Bang Zul sendiri mengaku, setelah banyak menggali referensi ia dapat menyimpulkan bahwa kampung halamannya di Sukau, Kalianda, Lampung Selatan berasal dari daerah Sukau yang ada di Sekala Brak, nama Sukau tetap dipakai sebagai pengingat asal muasal. "Di sini dan kampung saya tidak ada bedanya. Bahasa, adat kebudayaan, dan wajahnya (masyarakatnya) sama," paparnya. Secara defacto banyak catatan maupun kisah yang dipegang oleh masyarakat Lampung mengenai keterangan bahwa memang penduduk Kerajaan Sekala Brak di dataran Belalau (kini Lampung Barat) banyak yang bepertualang, menyebar membesarkan adat ke setiap penjuru daerah Lampung dan Komering dengan mengikuti aliran way (sungai), salah satunya sampai ke wilayah selatan tanah Lampung yang kemudian seiring perkembangannya mereka membentuk suatu Marga adat dan Kebandaran Adat yang masing-masing dipimpin oleh seorang bangsawan keturunan Sekala Brak, sebagai sebuah wadah dan upaya pemersatu mereka, dan ditempat yang baru itu pula tak jarang mereka menamai daerah-daerah tersebut seperti nama daerah asal mereka di Sekala Brak diantaranya nama Sukau, Canggu, Kenali, Negara Batin, Turgak, dan lainnya.

Dilihat dari kaitan sejarah itulah, dapat dikatakan bahwa Bang Zul adalah anak kandung dari adat istiadat Sekala Brak - Lampung, yang dahulu nenek moyangnya turun dari Sekala Brak menuju Way Handak, oleh karena itu maka simbol – simbol kebesaran dan anugerah sebagai Bangsawan Kerajaan memang pantas disematkan padanya.

Salah satu bentuk kecintaan Bang Zul pada adat istiadat Kerajaan Sekala Brak dan juga budaya Lampung dapat dilihat saat ia menyampaikan sambutan Dalam Upacara Memperingati Hari Pancasila Di Kementerian Luar Negeri, Jakarta (Kamis, 1 Juni 2017), dengan perasaan ta'zimnya sebagai Ulun Lampung / Jelma Lampung ia mengenakan Busana adat Lampung, kepiah tapis dan sarung tapis belipat, serta dilengkapi pula Lencana Adat Kerajaan Sekala Brak Kepaksian Pernong yang tersemat didada kirinya. Itulah sebuah identitas kedaerahan yang ditampilkan oleh Bang Zul tanpa ragu dan malu, bukan sebagai sikap etnosentris tapi justru sebagai bagian dari wajah Kebhinekaan sekaligus keragaman khazanah budaya Nusantara yang muncul kehadapan dunia pada moment yang sangat penting bagi bangsa Indonesia, yakni peringatan Hari Lahirnya Pancasila.

Ketua MPR RI berbusana adat Lampung dan mengenakan
Lencana Kepaksian Pernong Sekala Brak. 






Comments

Popular posts from this blog

PANGERAN SUHAIMI

Pangeran Suhaimi Mengabdi Untuk Negara dan Adat Istiadat Sultan Pangeran Suhaimi Pangeran Suhaimi adalah salah satu putra terbaik dari bumi Lampung, beliau lahir di Kecamatan Belalau Lampung Utara (kala itu) pada tahun 1908, beliau adalah putra Depati Merah Dani atau dikenal Hi. Harmain gelar Sultan Makmur. Pangeran Suhaimi Dimakamkan dalam suatu upacara militer di Taman Makam Pahlawan Kedaton Bandar Lampung. Bertindak sebagai inspektur Upacara adalah Kasi Politik Korem 043 Garuda Hitam Mayor Yusuf, serta dihadiri oleh Sekwilda Alimudin Umar, SH yang mewakili Gubernur Lampung dan juga salah seorang keluarga besar dari Pangeran Suhaimi. Turut hadir juga dalam upacara pemakaman Walikotamadya Drs. Zulkarnain Subing, Ketua DPRD Kodya Bandar Lampung. Adalah Pangeran Suhaimi salah satu putera daerah yang meninggalkan jejak pengabdian untuk tanah Lampung, baik selaku abdi masyarakat dalam pemerintahan begitu juga sebagai pejuang dalam pertempuran melawan penjajah. Selain i...

Selayang Pandang Sejarah Kerajaan Sekala Brak Lampung

Prasasti Batu Bertulis " Hujung Langit"  di Sekala Brak Disusun Oleh : Novan Saliwa ( Pemandu Seni Budaya Anjungan Lampung - TMII Jakarta ) Penyebaran Suku Bangsa Bangsa Indonesia berasal dari Assam yg terletak di India selatan, sebelah Utara Burma. Suku Melayu kuno atau Proto Malayan Tribes dari India Selatan itu dalam pengungsiannya, bergerak menyeberangi laut Andamen untuk kemudian berpencar dalam beberapa kelompok, demikian J.R.Logan Pada tahun 1848 telah mengemukakan teorinya. Kelompok kesatu bergerak ketimur melalui jawa dan Kalimantan dan ada yang terus keutara di philipina yang kemudian melahirkan suku bangsa Igorot dan lain lain. Kelompok kedua mencapai ujung utara sumatra menyusuri pantai barat mendarat di singkel, Barus dan Sibolga, kemudian melahirkan cikal bakalnya suku suku Batak Karo, Batak Toba, Dairi dan Alas. Kelompok ketiga meneruskan pelayarannya menelusuri Pantai Barat Sumatra terus keselatan yang akhirnya melalui krui menuju kedaerah ...

Pangeran Alprinse Syah Pernong Hadiri Pengukuhan Guru Besar UNDIP

Prof Eko Suponyono secara khusus mengundang Pangeran Alprinse karena beliau begitu bersahabat, setiap kali profesor ke jakarta, selalu pangeran yang menemaninya makan dan jalan-jalan, juga termasuk kalau ada kegiatan seminar, maupun saat promosi doktor dan profesornya, Pangeran datang ditemani pengasuhnya minan fitri dari Marga Keratuan Way Handak Lampung Selatan,  sampai di semarang disambut Panglima Panggittokh Alam Tanggamus Hengky Ashnari SH, MH, yg seharinya adalah anggota DPR Kab. Klaten, panglima menemani pangeran saat pengukuhan guru besar Prof. Eko Soponyono SH. MH di Universitas Diponegoro. Didalam acara pengukuhannya, pada hari S abtu (9/9/2017),  Prof. Eko Soponyono membacakan orasi terkait hasil penelitiannya dengan judul Hikmah Alquran Dalam Pembaharuan Hukum Pidana Demi Mewujudkan Keadilan Religius. Penelitian Prof. Eko itu terinspirasi penyusunan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru untuk menggantikan KUHP peninggalan pemerintah kolon...