Skip to main content

RUMAH TRADISIONAL LAMPUNG

Rumah Tradisional Masyarakat Lampung Sekala Brak

Rumah pribumi Lampung bernama Lamban / Nuwo. Bentuk bangunan dimaksud berdasarkan keasliannya mempunyai ciri-ciri fisik berbentuk panggung bertiang yang bahan bangunannya sebagian besar terbuat dari kayu. Layaknya sebuah bangunan, ornamen dan bentuk bangunan Lamban / Nuwo bagi masyarakat Lampung disesuaikan dengan kedudukan seseorang didalam adat, seperti dalam adat budaya Lampung Sekala Brak terdapat bangunan terkhusus bagi pimpinan adat yang disebut punyimbang adat lazim juga disebut Sultan / Raja adat. Bangunan terkhusus untuk  Raja Adat / Sai Batin itu disebut Lamban Gedung atau Gedung Dalom. 
Fungsi ” Gedung Dalom / Lamban Gedung ” adalah sebagai central dari detak jantung ghiroh adat, yakni sebagai pusat bermulanya tatanan adat tradisi yang kemudian dipakai dan diwujudkan dalam tradisi masyarakat, seperti halnya tatanan semenjak kelahiran, keseharian, hingga kematian.  Diumpamakan seperti tubuh manusia maka Lamban Gedung adalah jantung dan Saibatin Raja Adat sebagai empunya diumpamakan sebagai jasad, sedangkan ruh adat adalah jamma/jelma-nya Saibatin atau disebut masyarakat
adat. Piramida atau segitiga sama sisi itulah yang membuat marwah adat mesunar atau senantiasa bersinar. 


Oleh karena pentingnya Adat Budaya maka Lamban Gedung tidak hanya sekedar simbol adat atau hanya sebagai tempat bersemayamnya pusaka pusaka adat, akan tetapi juga sebagai muara penggerak adat itu sendiri. Dan untuk itulah Lamban Gedung berdiri beserta dengan tatanan atau rukun pedandanan yang melekat padanya.

Namun, Lamban Gedung tak akan bermakna dan berarti  lebih tanpa adanya sang Empu yaitu Sai Batin Raja Adat yang didalam dirinya tersandang pucuk tanggung jawab keberlangsungan adat, serta tak pula bisa Sai Batin hanya berdiri sendiri tanpa ruh yang membuatnya mampu berbuat, karena didalam ruh ada wilayah rasa kasih sayang serta tujuan perjuangan adat dipertahankan. Ruh adat itu adalah masyarakat ( Jamma / jelma) nya SaiBatin yang bersinergi dengan semua peran diatas untuk menentukan eksistensi adat budaya dikemudian hari.
Ruh masyarakat adat Lampung itu bertumpu pada empat hal yaitu Keberanian ( Bani ), kemapanan ( Pawar ) , Ilmu Pengetahuan ( Nalom ), dan kebersamaan ( Kemuarian). Empat hal tersebut adalah empat pilar bagi Sai Batin bersama jamma/jelmanya dalam menegakkan kehangguman Gedung Dalom / Lamban Gedung, agar degup jantung itu terus dan senantiasa berirama hingga menjemput takdir Tuhan dihari yang paling kemudian, makna nilai tersebutlah yang sering diwujudkan dalam simbol simbol empat pada ornamen ataupun tiang tiang rumah adat Lampung.
Ukiran Asli dan Kuno, Satu Dari Tiang 4 Penjuru Lamban Gedung
Simbol ” Empat” pada Ornamen ” SUNGGAD ” berbentuk seperti tumbuhan Pakis  yang melekat di Gedung Dalom
Kekhasan dari Gedung Dalom / Lamban Gedung adalah bagian ujung Bubungan rumah yang memusat kesatu titik tengah terbuat dari kayu dibulatkan (buttor) diatasnya satu kayu bulat pula berlapis tembaga, kemudian ada dua tingkatan (sakku) dari tembaga atau kuningan, dan yang teratas sekali perhiasan dari batu menurut bagaimana kesukaan. Nilai transendental sebuah lamban gedung ( rumah adat ) yang menjadi pusat nilai dan norma bagi masyarakat adat saibatin dicerminkan dari atap rumah yg memusat keatas, sebab fungsi dari rumah Raja Adat adalah tempat berhimpunnya para “jelma balak” petinggi petinggi dalam struktur kerajaan dalam bermusyawarah memutuskan persoalan adat yang biasa disebut Himpun Paksi / Himpun Agung.
Secara berurutan memasuki Lamban Gedung dapat dijumpai beberapa bagian seperti Jan atau tangga masuk, selanjutnya menaiki tangga dimuka rumah melalui beranda kecil disebut “usud” untuk menuju keberanda yang sebenarnya atau disebut “Lepau” yaitu ruang terbuka pada bagian atas depan rumah. Lalu setelah memasuki Pintu Utama maka dijumpai bagian dalam Lamban Gedung, terdapat satu ruang besar sebagai tempat Sai Batin beristirahat disebut Bilik Kebik. Tak ada yang masuk ke ruang itu kecuali Sai Batin dan Permaisuri atau kerabat yang diizinkan oleh Sai Batin. Di dalam ruangan itu, terdapat pula sejumlah senjata pusaka yang hanya Sai Batin atau Sultan yang berani memindah atau membukanya. Di depan pintu Bilik Kebik terdapat pelaminan atau singgasana yang disebut margasana. Alas duduk Sai Batin terdiri atas kasur berlapis-lapis, taber atau kain hiasan dinding, dan langit-langit yang terbuat dari kain beludru warna warni dan manik-manik yang disebut Leluhor Kejuntai. Dari dalam singgasana itulah Sai Batin memimpin sidang (hippun paksi) menghadap seluruh raja suku/ jukkuan duduk bersila. Hanya Sai Batin dan Raja Jukkuan yang boleh duduk di tempat ini pada saat hippun paksi.

Bagian dalam Istana Basa Pagaruyung,
Menurut Tambo Empat Umpu Paksi Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak
memiliki kaitan dengan Kerajaan Pagaruyung Sumatra Barat.
Lantai Lamban Gedung terdapat dua tingkat / trap, seperti halnya Istana Basa Pagaruyung yang lantainya bertingkat pula. Pada bagian depan yang disebut “Lapang Luar” yaitu ruangan setelah pintu masuk letak lantainya lebih rendah sekitar sejengkal dari ruang margasana, sebagaimana bisa kita temukan disalah satu Lamban Gedung / Gedung Dalom yang masih lestari bersama adat tradisinya yakni Gedung Dalom Kepaksian Pernong. Dan didalam acara tradisi, lantai rumah ini tanpa kursi, kecuali saibatin yang duduk diatas susunan kasur berhias maka seluruh tamu duduk beralaskan karpet atau tikar yg terbuat dari rotan ( resi ). Begitupun apabila mereka mendapat jamuan makan dari Sai Batin, maka seluruhanya Mejong Sila.
Susunan Lamban Gedung selanjutnya yang juga biasa terdapat pada rumah rumah orang lampung adalah  Lapang Lom sebagai ruang keluarga dan Tebelayar sebutan untuk kamar kedua. Serudu adalah ruangan bagian belakang yang diperuntukkan bagi ibu ibu, sementara Panggar adalah bagian loteng rumah panggung yang biasanya dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan barang barang dan piranti untuk keperluan adat. Dapor [dapur], dan yang paling belakang adalah Garang, merupakan tempat untuk mencuci perabotan dapur. Bagian bawah rumah panggung disebut dengan Bah Lamban yang sengaja menjadi ruangan terbuka. Dan pada bagian belakang yang terpisah dari bangunan rumah utama biasanya terdapat Balai, yaitu sebuah bangunan lumbung tempat penyimpanan padi.
Sebagai bagian dari kekhasan Lamban Gedung terdapat pula bermacam ukiran ornamen tumbuh tumbuhan dan juga hewan seperti ukiran ” Luday” atau lazimnya seperti naga di bagian tangga masuk Gedung Dalom Kepaksian Pernong Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak. Luday merupakan hewan satu satunya yang terdapat disungai terdalam, oleh karena nilai khususan itulah nenek moyang dahulu menorehkan pesan pesan simbolis kedalam ukiran luday pada sebuah batu maupun rumah, ukiran naga Lampung itu juga terdapat pada batu penghias makam keramat Raja Selalau Sangun ( Sang Hyang) Guru, di komplek makam raja raja Kepaksian Pernong Tambak Bata Batu Brak.
Berikut Dokumentasi Mengenai Rumah Adat Lampung :  
Gedung Dalom / Rumah Adat Lampung – Sekala Brak ( di Kepaksian Pernong )

JAN / Tangga menuju ” Usud” beranda kecil sebelum beranda sesungguhnya
Tiang Penyangga ” Usud “, terdapat Ukiran ” Luday” atau Naga Lampung
LEPAU / Beranda Luar
SINGGASANA / Margasana

Rumah Adat Si Nyata / Buay Benyata
 
Bangunan Anjungan Lampung TMII sebelum renovasi
Bangunan Anjungan Lampung TMII sebelum renovasi

Comments

Popular posts from this blog

PANGERAN SUHAIMI

Pangeran Suhaimi Mengabdi Untuk Negara dan Adat Istiadat Sultan Pangeran Suhaimi Pangeran Suhaimi adalah salah satu putra terbaik dari bumi Lampung, beliau lahir di Kecamatan Belalau Lampung Utara (kala itu) pada tahun 1908, beliau adalah putra Depati Merah Dani atau dikenal Hi. Harmain gelar Sultan Makmur. Pangeran Suhaimi Dimakamkan dalam suatu upacara militer di Taman Makam Pahlawan Kedaton Bandar Lampung. Bertindak sebagai inspektur Upacara adalah Kasi Politik Korem 043 Garuda Hitam Mayor Yusuf, serta dihadiri oleh Sekwilda Alimudin Umar, SH yang mewakili Gubernur Lampung dan juga salah seorang keluarga besar dari Pangeran Suhaimi. Turut hadir juga dalam upacara pemakaman Walikotamadya Drs. Zulkarnain Subing, Ketua DPRD Kodya Bandar Lampung. Adalah Pangeran Suhaimi salah satu putera daerah yang meninggalkan jejak pengabdian untuk tanah Lampung, baik selaku abdi masyarakat dalam pemerintahan begitu juga sebagai pejuang dalam pertempuran melawan penjajah. Selain i...

Selayang Pandang Sejarah Kerajaan Sekala Brak Lampung

Prasasti Batu Bertulis " Hujung Langit"  di Sekala Brak Disusun Oleh : Novan Saliwa ( Pemandu Seni Budaya Anjungan Lampung - TMII Jakarta ) Penyebaran Suku Bangsa Bangsa Indonesia berasal dari Assam yg terletak di India selatan, sebelah Utara Burma. Suku Melayu kuno atau Proto Malayan Tribes dari India Selatan itu dalam pengungsiannya, bergerak menyeberangi laut Andamen untuk kemudian berpencar dalam beberapa kelompok, demikian J.R.Logan Pada tahun 1848 telah mengemukakan teorinya. Kelompok kesatu bergerak ketimur melalui jawa dan Kalimantan dan ada yang terus keutara di philipina yang kemudian melahirkan suku bangsa Igorot dan lain lain. Kelompok kedua mencapai ujung utara sumatra menyusuri pantai barat mendarat di singkel, Barus dan Sibolga, kemudian melahirkan cikal bakalnya suku suku Batak Karo, Batak Toba, Dairi dan Alas. Kelompok ketiga meneruskan pelayarannya menelusuri Pantai Barat Sumatra terus keselatan yang akhirnya melalui krui menuju kedaerah ...

Pangeran Alprinse Syah Pernong Hadiri Pengukuhan Guru Besar UNDIP

Prof Eko Suponyono secara khusus mengundang Pangeran Alprinse karena beliau begitu bersahabat, setiap kali profesor ke jakarta, selalu pangeran yang menemaninya makan dan jalan-jalan, juga termasuk kalau ada kegiatan seminar, maupun saat promosi doktor dan profesornya, Pangeran datang ditemani pengasuhnya minan fitri dari Marga Keratuan Way Handak Lampung Selatan,  sampai di semarang disambut Panglima Panggittokh Alam Tanggamus Hengky Ashnari SH, MH, yg seharinya adalah anggota DPR Kab. Klaten, panglima menemani pangeran saat pengukuhan guru besar Prof. Eko Soponyono SH. MH di Universitas Diponegoro. Didalam acara pengukuhannya, pada hari S abtu (9/9/2017),  Prof. Eko Soponyono membacakan orasi terkait hasil penelitiannya dengan judul Hikmah Alquran Dalam Pembaharuan Hukum Pidana Demi Mewujudkan Keadilan Religius. Penelitian Prof. Eko itu terinspirasi penyusunan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru untuk menggantikan KUHP peninggalan pemerintah kolon...