![]() |
| Sultan Edward Syah Pernong disambut oleh para Saibatin Marga di Kabupaten Pesisir Barat |
Pada Saat Berdirinya Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak ini , diwilayah
pesisir Krui belum berdiri marga-marga. wilayah ini masih ditempati
oleh suku Tumi, yang sebagian merupakan pelarian dari Sekala Brak. Marga
marga baru berdiri diwilayah ini diperkirakan pada abad 15 M. mereka
berdatangan dari berbagai daerah di sumatra bagian selatan, seperti
Palembang, Komering dan Bengkulu.
Sebelum menetap di Pesisir Krui, marga marga ini sempat berpindah
pindah dari berbagai tempat di bagian barat Lampung, terutama tempat
yang terdapat aliran sungai. Sebagai mana ditulis dalam tambo tambo
marga di pesisir Krui-seperti Marga tenumbang, Penggawa Lima, Way Sindi
dan Pugung tampak-bahwa mereka juga memerangi suku tumi yang telah lebih
dahulu menetap diwilayah ini. sebagian suku tumi ini ada yang merupakan
pelarian dari kekalahan mereka melawan Paksi Pak Sekala Brak.
Pada abad 16 wilayah Sekala Brak
mengalami masa keemasan dalam hal perdagangan. Keadaan ini terkait
kebijakan banten dibwah Sultan Hasanuddin yang menitik beratkan pada
pengembangan perdagangan. Terutama setelah ditaklukkanya Sunda Kelapa
pada tahun 1527, yang kemudian berganti nama Jayakarta. Sehingga banten
memegang peranan lebih penting serta dapat menarik perdagangan lada ke
pelabuhannya. Lada merupakan Komoditas Utama perdagangan internasional,
yang didatangkan dari wilayah kekuasaan Banten seperti Jayakarta,
Lampung, dan Bengkulu.
Banyak Kepala- kepala marga baik di Sekalabrak maupun krui yang
melakukan “Siba” atau kunjungan kehormatan ke kesultanan banten. Mereka
kerap kali bertukar simbol simbol kenegaraannya. lampung memang pada
akhirnya mengakui kekuasaan Banten, meskipun pemerintahannya dijalankan
secara otonomi. selain hubungan perdagangan juga dalam hal keagamaan,
banyak pemuka adat yang berkunjung dan menetap ke Banten.
Walaupun Islam diwilayah Sekala Brak bukan dari banten melainkan
dari utara/pagaruyung. unutk memperlancar hubungan mereka, pada tahun
1570 banten mengangkat “Jemjem”/Jonjom untuk beberapa wilayah Lampung.
Jenjm adalah jabatan semacam duta bagi kerajaan banten untuk wilayah
wilayah yang dikuasainya. Jenjem Pertama untuk wilayah pesisir krui
adalah Ki Arya Wiraraja dan Depati Natanegara.
Hubungan perdagangan antara Paksi Pak Sekala Brak dengan Kesultanan
banten, salah satunya dapat dilihat dalam Piagam Paksi Buay Nyerupa
Sukau. Piagam tersebut dibuat tahun 1691 pada masa pemerintahan Sultan
Abdul Muahsin Muhammad Zaina Abidin di banten kepada Sultan Nyerupa
yaitu Pangeran Si Rasan Pikulun Ratu Di Lampung. salah satu isinya
adalah tentang kesepakatan untuk saling membantu, Sultan banten Juga
berhak untuk mengangkat dan memecat kepala kepala marga.
Kemelut terjadi ketika VOC ingin menguasai kesultanan banten ,
sehingga atas bantuan VOC pada tanggal 7 April 1682 Sultan Agung
Tirtayasa disingkirkan anaknya sendiri, dan SUltan Haji dinobatkan
menjadi SUltan banten. Perjanjian antara VOC dan Sultan Haji
menghasilkan piagam tertanggal 27 Agustus 1682 bahwa pengawasan dan
monopoli perdagangan rempah rempah atas daerah Lampung diserahkan Oleh
Sultan banten kepada VOC.
Bagi Tokoh-tokoh penguasa di LAmpung, berhubungan dagang dengan VOC
bukan hal yang menguntungkan, sebab mereka erikat dengan harga yang
ditetapkan VOC, seingga mereka lebih memilih berdagang dengan Kesultanan
palembang, yang dapat berdagang secara bebas tidak terikat. Maka dalam
beberapa ekspedisi dagang kapal kapal VOC ke Lampung selalu gagal.
Persoalan yang dialami VOC bertambah ketika kekuasaan Gubernur East
Indian Company ( EIC) Yoseph Callas semakin kuat dibengkulu, terjadi
tarik menarik moopoli perdagangan antara VOC dan EIC di Wilayah Lampung
Barat. Sampai akhir tahun 1740, EIC mendirikan loji di pugung tampak.
karena memang sangat strategis sebab arus perdagangan lada dan rempah
rempah yang mengalir ke pasar Banten, melalui pelabuhan krui, membukan
kesempatan besar EIC untuk memonopoli perdagangan lada diwilayah ini,
yang banyak dipasok dari Pulau Pisang dan Olok pandan.
Pada mulanya perdaganganEIC berjalan lancar sebab menggunakan
pendekatan persuasif terhadap marga marga dipesisir krui. salah satunya
adalah mengakui eksistetnsi kekuasaan para kepala adat. berbeda dengan
kekuasaan belanda kelak. EIC tidak pernah melakukan pemecahan terhadap
wilayah marga marga. pengangkatan jurai jurai untuk menjadi kepala marga
hanya dilakukan EIC setalah ditetapkan oleh adat. hal ini yang membuat
EIC relatif dapat diterima bagi masyarakat adat.
Namun ketika Tahun 1755 terjadilah keributan antara petugas loji
dengan seorang warga. tanpa diduga keributan terus berkembang, sehingga
memunculkaan perlawanan warga . terutama munculnya Pangeran SIagul-agul
yang merupakan Sai Batin marga Way Sindi. mulai saat itulah terjadi
peperangan panjang antara EIC dengan marga marga yang dipimpin Pangeran
Siagul-agul bahkan dengan sepasukan rakyat yang diambil dari sepanjang
pesisir Krui, pangeran memimpin penghancuran Loji-Loji EIC.
Setelah melewati peperangan yang panjang akhirnya EIC mengubah
siasat perangnya. meraka mendekati para tetuamarga untuk dapat
meluluhkan semangat balatentara Pengeran Siagul-agul, siasat ini memang
cukup ampuh, sebab akhirnya pasukan pangeran siagul agul kian melemah
dan perlawanan ini berkahir tahun 1758, dengan perjanjian antara
pangeran Siagul agul dengan Hew Stuart dari pihak EIC.
Tarik menarik EIC dan VOC masih terjadi di Lampung Barat, tapi
keunggulan EIC lebih mendahului memonopoli perdagangan diwilayah Lampung
Barat, Perjanjian dengan marga marga juga terus meluas termasuk juga
Tahun 1799 Pengeran Natamarga Buay Belunguh Ikut Pula melakukan
Perjanjian pada tanggal 13 Maret 1799. Disusul kemudian pangeran Alib
jaya Buay Penong dengan surat perjanjian ddo.7 Agustus 1799.
Negeri belanda thun 1795 berhasil ditaklukkan Napoleon, karenanya
daerah koloni belanda yaitu Indonesia terancam oleh armada inggris dari
calcutta India. Untuk itu, VOC dibubarkan dan pemerintahannya diambil
alih oleh pemerintah Kerajaan belanda. Tanggal 18 januari 1807 HW
Deandels diangkat menjadi Gubernur Jendral untuk memerintah Hindia
belanda dengan Pusat kekuasaan batavia.
Tahun 1811 armada Inggris datng dengan 100 kapal dengan 12.000
tentara dibawah jendral Auchmutty, memporak porandakan pertahanan
belanda di batavia yang akhirnya belanda mengibarkan bendera putih, dan
ditandatanganilah Kapitulasi Tuntang pada tahun yang sama yang berisi
penyerahan pulau Jawa dan sekitarnya yang dikuasai belanda ketangan
INggri, dan diangkatlah Thomas Stanford Raffles sebagai Letnan Gubernur
untuk daerah Jawa dan sekitarnya. Raffles sempat mengadakan pertemuan
dengan kepala kepala marga Lampugng dan banten di banten, pada
kesempatan itu raffles mengakui eksistensi kepala marga, untuk mengatur
pemerintahannya sendiri.
Tahun 1813 Residen krui disatukan dengan bengkulu. Sehingga seluruh
marga dipesisir Krui praktis berada dibawah kekuasaan raffles. termasuk
juga wilayah kekuasaan Buay Nyerupa dan Buay Bejalan Diway yang
dimasukkan ke keresidenan Krui. meskipun Wilayah kekuasaan Buay Pernong
dan Buay belunguh tetap dibawah Pemerintahan belanda, yaitu Afdelling
Komering Ulu Palembang.
Bersamaan dengan peristiwa tersebut , di wilayah pesisir Krui,
penduduk asal kembahang mendirikan marga Ngambur. dari Wilayah marga
Buay Nyeryupa juga didirikan marga Ngaray, bengkunat, belimbing, Pugung
Bandar dan Pugung Malay. Selanjutnya didekat Way Krui oleh penduduk
Pawuh, Liba haji, semangka dan bengkulu didirikan pula 4 kampung, yaitu
kampung Pawuh, kampung Liba Haji, Kampung Semangka dan Kampung Bengkulu.
Berjarak satutahun kemudian, Gelombang perang di Eropa berkahir,
Kaisar Napoleon Bonaparte akhirnya tumbang dan dibuang ke pulau elba.
akibantnya banyak terjadi perjanjian perjanjian antara inggrisa dan
belanda, tahun 1824 terjadi kembal perjanjian antara Inggris dan Belanda
yang dituangkan dalam ( Treaty of London), Traktat London atau
Perjanjian London, salah satu kausulnya adalah Keharusan belanda
menyerahkan malaka kepada inggris sebagai gantinya belanda diberikan hak
untuk mendapatkan wilayah Bengkulu.
Setahun kemudian menyebarlah surat Plakat ompeni Inggris di
Bengkulu, yang memberitahukan kepada semua kepala marga marga bahwa
telah terjadi pertukaran daerah dan pimpinan dari kompeni inggris kepada
belanda. mulai dari hari dan bulan tersebut, berkuasalah belanda
memerintah dan memimpin marga marga termasuk juga Buay Nyerupa dan Buay
Bejalan Diway yang sebelumnya masuk dalam kekuasaan Inggris di bengkulu.
Pada masa inilah banyak berdiri marga marga baru. Pola sekarang
terkait dengan Siasat Licik Belanda untuk melemahkan kekuatan penduduk
yang terhimpun dalam pemerintahan adat, khusunya Kerajaan Adat Paksi pak
Sekala Brak. Sehingga apabila terdapat marga yang memiliki wilayah yang
cukup luas, oleh belanda segera dilakukan pemecahan kekuasaan
masyarakat adat dengn membentuk marga baru. sehingga banyak pekon pekon
yang merupakan perkampungan kecil, diangkat statusnya menjadi marga.
pada saat itu marga marga diwilaya Krui terdiri dari :
- Belimbing,
- Bengkunat,
- Ngaras,
- Penggawa Lima ( Perpas, Negeri, bandar, menyancang dan pedada) ,
- Ngambur,
- Tenumbang,
- way Sindi,
- Pugung Tampak,
- Pugung Bandar,
- Pugung Malaya,
- Sukau,
- kembahang.
Termasuk juga 4 kampung yang terletak didekat Way Krui misalnya:
kampung pawuh, Kampung Semaka, Kampung Liba Haji, Kapung bengkulu yang
masing masing ada penghulunya. Pada tahun 1852, di Krui kembali Berdiri
Satu Marga, yaitu marga Way Napal, mereka berasal dari afdeling kaur (
Bintuhan).
Selain melakukan pemecahan wilayah menjadi marga, serdadu serdadu
belanda juga melakukan pemerasan terhadap penduduk, sehingga menimbulkan
pkebencian dan perlawanan dari tokoh tokoh di Lampung, Seperti Radin
Inton (Lamsel0, Batin Mangunang (Kampung Teratas-Semangka), Dalom
mangkunegara 1837, namun hingga 1853 kekuasaan Dalom Mangkunegara yang
berkedudukan di Bumi Ratu berhasil di hancurkan belanda.
Di Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak sendiri perlawanan terhadap
belanda juga terjadi, salah satunya di pimpin oleh Sultan Ali Akbar
Hidayatullah Waliyullah, Jurai ke16 dari Buay Nyerupa.Tahun 1868 Beliau
melakukan perang gerilya diwilayah Gunung Pesagi, Gunung Seminung,
Belalau sampai ke Pugung Tampak, belanda mengajak berunding Sultan Ali
Akbar agar melakukan perdamaian. kan tetapi tawaran tersebut ditolak,
kecuali belanda tidak memeach belah kekuasaan Paksi.
Permintaan tersebut tentu ditolak, dengan siasat liciknya belanda
menangkap Sultatan Ali Akbar dan dibuang kemuko muko bengkulu selama dua
tahun, didalam pembuangannya Sultan Ali Akbar miminta izin kepada
belanda untuk menunaikan ibadah haji. Diiringin oleh para pangeran pagar
alam, beliau berangkat melalui pelabuahn Menggala. Namun Takdir
membwanya wafat ditanah suci, masyarakat buay nyerupa mengenangnnya
dengan ungkapan “terbang burung, terbang sangkarnya” .
Masyarakat Paksi pak Sekala brak memang tengah mengalami
kegoncangan, Politik “devide at Impera, dengan memecah belah wilayah
kekuasaan paksi juga belanda dianggap telah terlalu campur tangan dan
tidak menghormati sistem pemerintahan masyarakat adat. Miasalnya dengan
peraturan mengenai pangkat pesirah bagi marga marga.
Gouvernments besluit ddo.6 Maar n.18, ( Maklumat Gubernur jendral
tertanggal 6 Maret 1844. No. 18), melarang Paksi Pak memakai nama
Kerajaan dan dilarang :
- Pangkat Maharaja dan Raja pada Kebuayan dan marga marga tidak boleh lagi dipergunakan.
- sebutan bagi pemimpin masyarakat adat adalah Pesirah.
- Blanda berupaya menanamkan nilai nilai kepercayaan ajaran kristiani di sekitar Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak / Lampung Barat.
Politik Devide at Impera salah satunya dilakukan dengan memecah
Paksi Buay nyerupa dengan Membentuk Marga Liwa, Marga ULu Krui, Sukau
dalam wilayah Kepaksian Nyerupa juga menjadi marga Sukau dengan Pesirah
H. Abdl, Hamid. Meskipun bebrbetuk marga, Walaupun scara adat meraka
sebenarnya masih mengakui sebagai keturunan dari Buay Nyerupa.
Sebelumnya pada tahun 1860, di Krui Berdiri Marga Pasar Krui yang
memerintah empat buah kamung, yaitu, Pawuh, semangka, liba haji dan
bengkulu namun kemudian pekon tersebut juga dijadikan Marga. pada tahun
1871 didirikan pula marga Penggawa Lima Ulu, Penggawa Lima Ilir,
Penggawa LIma Tengah, yang merupakan pecahan dari marga Penggawa Lima.
Pada tanggal 17 Oktober 1879 Buay Pernong dan Buay Belunguh yang
sebelumnya termasuk kedalam wilayah afdeling Muara Dua Palembang,
dimasukkan kembali kedalam wiwlayah kekuasaan residen bengkulu, terjadi
pada masa Sultan Sampurna Jaya yang memerintah Buay Pernong dan Sultan
bala Seribu IV yang memerintah Buay Belunguh. Saat itu terbentuk Pula
marga baru yaitu Marga Suoh yang merupakan pecahan dai buay Pernong,
meskipun marga suwoh hanya bertahan setengah abad sebab pada 4 April
1933 marga ini dimatikan dan disatukan Kembali dengan Buay kenyangan.
Memasuki awal Abad 20, ditandai dengan lahirnya politik etis.
Politik ini merupakan politik balas budi Belanda kepada bangsa
Indonesia. Karena Bangsa indonesia telah menylamatkan Belanda dari
kesulitan keuangan sehingga bukan hanya hutang terbayar tetapi belanda
juga dapat membangun ekonominya dengan baik. Gagasan politik ini pertama
kali diungkapakan oleh Van Dedem sebagai anggota parlemen belanda.
Politik etis akhirnya juga memaksa pemerintah Hindia belanda di
Lampung Barat mengalami perbaikan dibandingkan dengan keadaan
sebelumnya. Salah satunya pada tahun 1927 Dilakukan Pembuatan jalan
sepanjang 8 KM di Buay Pernong, yang menggerakkan 270 tenaga kerja.
serta pembuatan sawah sawah baru didataran Tuning Liwau Bulan Bara,
Hanibung, Remelai, dan Sebakow. ahun 1929 Sultan Pangeran SUhaimi dari
buay pernong mendapat penghargaan dari Belanda karena dianggap
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mebangun pasar yang
terletak di Ujung pekon balak.
Tahun 1922, Pulau Pisang hendak dipisahkan dari marga Way SIndi
untuk dibentuk menjadi marga tersendiri. Dengan Alasan bahwa Pesirah
marga Way Sindi bernama Burhanuddin gelar Radin Indera nata, mengaku
tidak dapat memerintah wilayah yang berada ditengah pulau tersebut.
Namun secara adat, Pesirah marga Pulau Pisang masih keturunan jurai
dari Marga Way SIndi. HIngga kini marga Pulau Pisang tetap berpegang
teguh kepada marga Way Sindi, walaupun pemerintahannya tidak algi
dibawah pemerintahan Marga Way Sindi. hal tersebut tertuang dalam
Perjanjian kedua Marga ddo.12 Oktober 1933.
Tahun 1928, memberlakukan kebijakan baru mengenai wilayah kekuasaan
Marga marga, yaitu berdasarkan geneologis-teritorial menjadi
teritorial-geneologis. Setiap marga dipimpin oleh seorang kepala Marga
yang diangkat atas dasar pemilihan punyimbang punyimbanga dat yang
bersangkutan. Sejak saat itu marga marga yang terdapat di lampung Barat
antara lain adalah:
Buay belunguh, Buay Pernong, Buay Bejalan Diway, Buay Nyerupa,
Liwa, Suwoh, Way SIndi, La’ai, bandar Krui, Pedada, Ulu Krui, Pasar
Krui, Way Napal, Tenumbang, Ngambur, Ngaras, bengkunat, belimbing,
Pugung penengahan, Pugung Malaya, Pugung Tambak dan Pulau Pisang.
Sumber : Pada Mulanya Skala Brha Sejarah Masyarakat Adat
Lampung Barat. Penulis : Yhannu Setiawan , Khairul Setiawan, Anwar Anas,
Andi M Windharsa

Comments
Post a Comment